Asal Enggak Bikin Susah Orang

image

Badannya tak lebih besar dari anak saya yang berumur 13 tahun. Harsa, menurut taksiran saya, umurnya belum lagi genap 30 tahun dengan bobot tubuh sekurangnya di bawah 50 kilogram. Perihal usia, Harsa hanya menyebutkan, “saya belum berkeluarga, tapi sekarang sudah punya calon istri. Dia juga orang Pulau Tidung asli seperti saya,” ujarnya dengan mimik yang serius.

Lelaki yang berperawakan kurus dengan rambut ikal ini tak seperti kebanyakan nakhoda kapal yang digambarkan dalam cerita heroik masa silam: mengarungi samudra untuk merengkuh emas (gold), penyebaran agama (gospel) dan juga kemenangan (glory). Baginya, berperahu adalah hidupnya. “Saya lahir dan besar di Pulau Tidung. Ini Perahu milik bapak saya, dan hampir setiap hari saya pakai buat mencari nafkah,” paparnya lagi.

Tak heran, kala menempuh perjalanan dari sisi selatan Pulau Tidung kecil menuju dermaga Pulau Tidung Besar, dengan lincah ia menerobos gerumbulan karang di bawah perahunya. Untuk menempuh perjalanan selama 20 menit itu, ia cukup menggunakan kaki kirinya untuk mengatur kemudi mengarahkan jalan perahu bermesin Dong Fang itu.

Sejak Tidung menjadi destinasi wisata andalan Kecamatan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, di tahun 2000-an, penduduknya kini memang tak lagi mengandalkan menangkap hasil laut untuk hidup. Pulau seluas 107 hektare dengan jumlah penduduk mencapai kurang lebih 4.000 jiwa itu kini mengandalkan pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan daerahnya.

Seperti halnya penduduk lain, peluang inilah yang kemudian dimanfaatkan Harsa beserta sanak famili yang dimilikinya. “Abang sepupu saya -ia memanggilnya dengan sebutan si Bule- juga punya perahu. Bapaknya Bule dengan emak saya kakak beradik. Dia sejak 2 tahun lalu mulai narik perahu yang sama dengan saya,” paparnya sembari menyemburkan asap A-Mild dari mulutnya.

Bule yang yang diceritakan Harsa ini, mengaku dua tahun lalu ia lebih banyak ke darat -istilah orang pulau untuk pergi ke kota Jakarta- untuk mencari nafkah. Namun, kini ia lebih memelihi menjadi tukang perahu layaknya Harsa yang sudah menekuni menjadi nakhoda sejak 4 tahun lalu. “Kalau lagi libur Sabtu-Minggu seperti ini, dapatnya lumayan. Sewa perahu untuk snorkling saya terkadang dapat Rp300-400 ribu sekali jalan. Tapi kalau ada yang mau sewa buat mancing juga bisa. Tergantung jaraknya, sih kalau harga,” urai si Bule yang tidak berkulit putih.

Harsa menimpali, soal harga sebenarnya ia tak mau mematok pastinya. Sebab, tergantung dari beberapa faktor lain seperti, jarak dan waktu perjalanannya. Lepas dari persoalan harga, bagi Harsa berperahu semacam ini baginya sudah menjadi bagian hidup. “Selama rejeki halal dan enggak bikin susah orang, saya sudah bahagia,” ujarnya.

Deretan kata-kata yang meluncur dari mulut Harsa dengan mimik datar tanpa ekspresi itu segera menutup pembicaraan singkat sore itu di atas Laut Jawa. Beberapa detik kemudian, mulutnya kembali menyedot lembut sebatang rokok kretek berkelir putih.

(sirizka, Tidung, 23 Juli 2016)

Camera: iphone 4S
Edited: #Lightroom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s